2 Mei 2013

Lokasi Wisata di Langkat

Lokasi Wisata di Langkat
Lokasi Wisata di Langkat, Langkat adalah salah satu kabupaten di provinsi Sumatera Utara, kabupaten ini memiliki potensi alam yang luar biasa, di samping tanahnya subur, Langkat memiliki banyak ekowisata yang harus di kunjungi, tidak kalah dari tempat-tempat terindah di Indonesia lainnya. Sungai yang bening dan bersih sangat cocok untuk arung jeram serta menantang para pecinta alam, Air terjun yang Indah, wisata gunung, dan pantai, serta penangkaran hewan langka. Tangkahan sangat terkenal bagi orang eropa yang mencintai hewan seperti orang utan, setiap tahun ribuan turis berkunjung ke Tangkahan untuk menyaksikan atau meniliti orang di habitatnya.

Air Terjun Lau Balis
Lau Balis adalah salah satu pertunjukan alam tersembunyi. Air terjun yang memiliki nama lain air terjun Tongkat ini adalah sebuah air terjun yang mengaliri Sungai Sei Bingai. Airnya bermuara ke Selat Malaka.

Disebut air terjun Tongkat, karena dari bibir air terjun ada kayu besar yang berdiri menyandar. Menurut masyarakat sekitar, diperkirakan sudah lebih dari 20 tahun kayu tersebut menyandar di sana.

Air terjun ini letaknya di Desa Rumah Galo, Kecamatan Sei Bingai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara. Untuk menuju Desa Rumah Galo ini harus ditempuh selama lebih kurang 3 jam menaiki sepeda motor.

Jika berangkat dari Kota Medan, turis bisa melewati Kota Binjai lalu belok ke kiri dari samping Binjai Supermall. Perjalanan akan terus menanjak selama lebih kurang 1 jam.

Arung Jeram
Arung jeram yang merupakan kegiatan berbahaya , tetapi untuk kawasan sungai Wampu melalui rute muara Sungai Ketuken Desa Kapras sebagai titik awal, hingga pantai Pamah Durian Desa Marike Kecamatan Kuta Mbaru, Langkat dengan masa tempuh berkisar dua sampai tiga jam. Sedangkan tingkat kesulitan pengharungan (grade) II dan III plus, sehingga cukup aman untuk keluarga dan pemula.

Penggemar rafting dari Medan sekitarnya yang dipandu Rapid plus, kerap menyelenggarakan rafting disini, tetapi dalam tahun 2004, kegiatan tersebut ditiadakan karena terjadinya banjir bandang di Bukit Lawang. Sekarang rafting di Sungai Wampu kembali digalakkan dan mulai dikenal sebagai arena petualangan yang santai, enjoy bersama keluarga.

Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Langkat kerap bekerja sama dengan Rapid Plus yang merupakan salah satu klub anggota Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) menggelar event tersebut . Kegiatan arung jeram ini sekaligus untuk memperkenalkan Kecamatan Kutambaru yang memiliki tempat lokasi olah raga arung jeram alami serta air terjun dan sumber mata air panas.

Rute arung jeram di Sungai Wampu Kabupaten Langkat diawali dari Muara Ketuken / Sei Wampu di Desa Kapras hingga ke Pantai Pamah Durian, Marike Kecamatan Kutambaru, memiliki beberapa jeram yang dilintasi. Sedikitnya ada enam jeram diantaranya satu jeram kelihatan agak besar, sehingga kalau keseimbangan tidak dijaga ada juga peserta yang karam dilokasi ini.

Selain memiliki panorama indah dengan bebatuan alam dikedua sisi sungai Wampu tersebut, selepas jeram pertama juga ditemukan beberapa lokasi air mancur / terjun yang debit airnya rendah, tetapi satu diantaranya cukup besar dan air yang terjun kelihatan bertingkat-tingkat .

Peserta arung jeram, beberapa saat melintasi riak arus jeram pertama, biasanya beristirahat di sekitar lokasi air terjun tersebut. Sambil menikmati panorama sekelilingnya, dengan bebatuan yang tinggi dan terjal ada juga yang kelihatan bagaikan di ukir. Di sisi air terjun ada juga peserta yang menyempatkan diri membasahi badan dengan curahan air terjun tersebut.

Selang beberapa saat, permukaan air kelihatan tenang dan damai, diselingi kicauan burung hutan. Tidak lama setelah peserta arung jeram berhanyut-hanyut dengan perahu karetnya, ditemukan pantai bebatuan yang indah. Disinilah tempatnya sumber mata air panas. Kepulan gelembung air ibarat memasak air dalam kuali besar, begitulah uap air yang panas menggelegak dengan asap yang mengepul. Kalau ikan dimasukkan ke dalam airnya, dipastikan siap saji sebagai ikan rebus, ujar salah seorang peserta mengomentari keberadaan sumber mata air panas tersebut.

Bukit Lawang Tempat Penangkaran Orang Utan Sumatera
Bukit lawang merupakan salah satu objek wisata alam lain yang sangat menarik dan sudah tersohor ke mancanegara, selain menawarkan keindahan hutan tropis dengan flora dan faunanya juga ditemukan penghuninya yang tergolong langka yaitu orang utan ( Ponggo Pygmaeus) yang berkembang biak dikawasan TNGL (Taman Nasional Gunung Leuser) tersebut.

Keberadaan orang utan dengan Ponggo Resortnya yaitu Pusat Rehabilitasi Orang Utan di Bukitlawang merupakan daya tarik tersendiri bagi turis asing . Selain di kawasan Bukit Lawang, satwa langka tersebut juga ada di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah.

Pusat rehabilitasi orang utan didirikan dari dana suaka alam dunia WWF (World Wild Life Fund) sejak tahun 1973,bertujuan untuk meliarkan kembali orang utan ke habitatnya semula di kawasan hutan Taman Nasional Gunung Leuser. Populasi orang utan diperkirakan masih ada 300-an ekor di alam bebas hutan TNGL tersebut. Beberapa ekor diantaranya setiap hari diberi makan oleh petugas dari Sub Balai TNGL Bukitlawang .

Pemberian makanan untuk orang utan tersebut dua kali setiap harinya, masing-masing berkisar pukul 08.30 – 09.30 wib dan sorenya sekitar pukul.15.00 – 16.00 wib. Beberapa tandan pisang dan seember susu untuk makanan orang utan tersebut sudah dipersiapkan, kaarenanya atraksi pemberian makanan bagi orang utan merupakan pemandangan yang asyik bagi para turis bule.

Keberadaan penangkaran Orang utan dan datangnya turis bule, memberikan peluang untuk meraup dollar, dengan terbukanya rute jelajah hutan (jungle-trek) untuk turis asing. Tarif yang dipungut oleh pemandu wisata terhadap turis bule yang melakukan jelajah hutan tidak lagi US Dollar tetapi sudah mata uang EURO. Kisaran 10 sampai 25 Euro per-hari dengan rute Bukitlawang – Araspinang dan ekor Rantaupanjang , tarif jasa tersebut tergantung berapa banya jumlah turis yang menjelajah hutan. Tarif jasa kelompok pemandu yang biasanya terdiri dari seorang guide dan dua asistennya mempersiapkan bahan makanan/ minuman serta peralatan jelajah hutan, termasuk biaya fee izin masuk hutan.

Tangkahan
Obyek wisata Bukitlawang Kecamatan Bahorok Kabupaten Langkat memiliki ciri khas dengan adanya Pusat Rehabilitasi Orang Utan sejak lama tersohor ke mancanegara. Selain itu masih banyak lagi kawasan obyek wisata yang memiliki panorama indah dengan ragam flora dan fauna yang belum berkembang bahkan masih perawan.

Tangkahan namanya, berlokasi di kawasan perbatasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), termasuk dalam wilayah Desa Namo Sialang dan Desa Sei Serdang Kecamatan Batangserangan Kabupaten Langkat. Selain pemandian Kuala Buluh di Tangkahan ,ada beberapa lagi obyek wisata disekitarnya yang potensial seperti air terjun yang berada di 13 lokasi yaitu air terjun Sungai Buluh,Sungai Garut, Sungai Umang, Grogoh Kiri,Air terjun Batak,Air terjun Cengke-cengke, Air terjun Murba,Alur Grogoh
Kanan, Sungai Gambir, Alur Simpangkanan,Alur Simpangkiri dan Air terjun Tala-tala.

Sebuah lembaga swadaya, Indonesian Ecotourism Network ( INDECON) sejak tahun 2002 melakukan penelitian dilapangan guna mendata potensi serta menyusun rencana induk pengembangan Ekowisata Kawasan Tangkahan .Bekerja sama dengan Lembaga Parawisata Tangkahan (LPT) yang dikelola kelompok masyarakat setempat serta Balai TNGL (Taman Nasional Gunung Leuser).

Menurut mereka,para wisatawan belakangan ini tidak lagi sekedar datang untuk melihat obyek wisata tertentu, tetapi mereka berupaya melakukan perjalanan wisata sambil memperluas wawasan,pengalaman dan pengetahuan baru.Model wisata seperti ini dikenal dengan istilah wisata lingkungan ,ekologis maupun wisata konservasi atau populer dengan sebutan ekowisata ( ecotourism).

Masjid Raya Stabat
Setelah dua tahun berdirinya Masjid Azizi di Tanjungpura semasa pemerintahan Sultan Musa, Kejuruan Stabat pun tidak ketinggalan untuk membangun masjid diwilayahnya, dalam tahun 1904 mulai dikerjakan pembangunan masjid yang kini bernama Masjid Raya Stabat.

Semasa Kejuruan Stabat T HM Khalid , masjid ini mulai berkembang dan terakhir diteruskan oleh ahli warisnya diantaranya Tengku Soelung Chalizar dan terakhir dilanjutkan oleh Tengku Syamsul Azhar hingga sekarang. Dengan luas areal 4.454 meter persegi,semula bangunan masjid ini terdiri dari bangunan induk seluas 20 meter persegi delapan,ditambah teras dua meter keliling dengan satu buah menara.Ketika itu jama’ah yang dapat ditampung hanya berkisar 300 orang.

Belakangan,teras masjid ditambah lagi dengan swadaya dan partisipasi masyarakat setempat,demikian pula pada bagian atapnya mulai direhab.Dulunya bagian atap kubang terbuat dari kayu besi dari Kalimantan,karena lapuk dimakan usia akhirnya atap kubah diganti dengan seng.

Rehabilitasi masjid silih berganti,namun perkembangannya terasa sangat lamban. Ketika itu bangunan teras ditambah lagi semasa Bupati Langkat H Marzuki Erman.( 1986 ).

Tengku Soelung Chalizar selaku Nazir Masjid bersama adiknya Tengku Syah Djohan yang baru diangkat sebagai Lurah Stabatbaru ( 30 Nopember 1991) dengan bantuan swadaya masyarakat yang dikoordinir H Ibnu Kasir selaku pengurus BKM Masjid Raya Stabat, meneruskan pembangunan dan rehab masjid tersebut yang hingga kini berkembang pesat. Belakangan ini kenaziran dipimpin Tengku Syamsul Azhar.

Diolah dari Langkatonline. terima kasih untuk Langkat Online

Lokasi Wisata di Langkat Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Rudi Lumban Gaol

3 komentar:

Bromo Travelling mengatakan...

artikel dan foto-fotonya keren keren boss.. Terimakasih infonya

Anonim mengatakan...

kawasan langka memang kerennn

Anonim mengatakan...

kawasan langka memang kerennn